Langsung ke konten
Artikel

Mengenal Maqam Ibrahim: Sejarah, Fungsi, dan Tempat Shalat di Belakangnya

Crowd of worshippers in Mecca surrounding the Kaaba at the Grand Mosque during pilgrimage.

Foto: Muhammad Khawar Nazir / Pexels

Setiap jamaah haji dan umroh yang memasuki Masjidil Haram pasti merasakan getaran tersendiri saat mata menangkap Kabah. Namun, ada satu titik kecil yang sering menjadi perhatian: sebuah batu dengan jejak kaki yang berada tidak jauh dari pintu Kabah. Itulah Maqam Ibrahim, salah satu peninggalan paling bersejarah dalam Islam.

Bagi sebagian orang, Maqam Ibrahim mungkin hanya dikenal sebagai tempat shalat setelah thawaf. Padahal, di balik batu tersebut tersimpan kisah panjang tentang perjuangan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan pembangunan Kabah. Memahami Maqam Ibrahim bukan sekadar menambah wawasan, tetapi juga memperdalam makna ibadah yang sedang dijalani.

Dalam artikel ini, kita akan mengenal Maqam Ibrahim secara lengkap — mulai dari sejarahnya, fungsinya dalam rangkaian ibadah haji dan umroh, hingga keutamaan shalat di belakangnya. Simak sampai selesai agar ibadah Anda semakin bermakna.

Apa Itu Maqam Ibrahim?

Secara bahasa, maqam berarti tempat berdiri, sedangkan Ibrahim merujuk pada Nabi Ibrahim AS. Jadi, Maqam Ibrahim adalah tempat Nabi Ibrahim berdiri saat membangun Kabah bersama putranya, Nabi Ismail AS.

Maqam Ibrahim berbentuk batu kecil dengan ukuran sekitar 40 x 30 sentimeter. Di permukaannya terdapat bekas jejak kaki yang diyakini sebagai jejak kaki Nabi Ibrahim. Batu ini tidak tertanam di tanah, melainkan diletakkan di atas sebuah bangunan kecil berbentuk kubah yang dilapisi kaca dan logam mulia.

Lokasinya berada tepat di depan pintu Kabah, sekitar 13 meter dari dinding Kabah. Posisinya sangat strategis sehingga mudah terlihat oleh jamaah yang sedang melakukan thawaf.

Seiring waktu, batu ini mengalami berbagai perawatan. Penutupnya beberapa kali diganti, mulai dari kayu sederhana hingga konstruksi kaca dan emas yang kita lihat sekarang. Tujuannya tentu saja untuk melindungi batu bersejarah tersebut dari kerusakan dan sentuhan langsung jamaah.

Sejarah Maqam Ibrahim: Jejak Perjuangan Nabi Ibrahim

Kisah Maqam Ibrahim tidak bisa dipisahkan dari peristiwa pembangunan Kabah. Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk meninggikan fondasi Baitullah. Keduanya bekerja keras, mengangkat batu demi batu, sambil terus berdoa dan bertasbih.

Saat dinding Kabah semakin tinggi, Nabi Ibrahim membutuhkan pijakan agar bisa mencapai bagian atas. Nabi Ismail kemudian membawakan sebuah batu. Nabi Ibrahim berdiri di atas batu itu, sementara Nabi Ismail membantu dari bawah. Di situlah jejak kaki Nabi Ibrahim membekas.

Setelah Kabah selesai dibangun, Nabi Ibrahim berdiri di atas batu tersebut dan menyeru manusia untuk berhaji. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 27 yang artinya:

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari sejauh-jauh tempat.”

Sejak saat itu, Maqam Ibrahim menjadi saksi bisu atas ketaatan dan pengorbanan Nabi Ibrahim. Batu ini juga tercatat dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 97 sebagai salah satu tanda kebesaran Allah di Masjidil Haram.

Perjalanan Maqam Ibrahim dari Masa ke Masa

Pada masa awal Islam, Maqam Ibrahim sempat berpindah posisi beberapa kali. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, batu ini berada sangat dekat dengan Kabah. Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia memindahkan Maqam Ibrahim ke posisi yang kita kenal sekarang, yaitu sekitar 13 meter dari Kabah.

Sejumlah khalifah setelahnya juga melakukan perbaikan. Khalifah Al-Mahdi dari Dinasti Abbasiyah pernah mengganti penutupnya dengan konstruksi yang lebih kokoh. Begitu pula pada masa Dinasti Utsmaniyah, Maqam Ibrahim direnovasi agar tetap terjaga.

Hingga kini, Maqam Ibrahim menjadi salah satu benda paling dijaga di dunia. Pemerintah Arab Saudi secara rutin merawat dan memastikan keamanannya, terutama saat musim haji ketika jutaan jamaah datang dari berbagai penjuru dunia.

Fungsi Maqam Ibrahim dalam Ibadah Haji dan Umroh

Bagi jamaah haji dan umroh, Maqam Ibrahim memiliki fungsi utama sebagai tempat shalat setelah thawaf. Setelah menyelesaikan tujuh putaran mengelilingi Kabah, jamaah dianjurkan untuk shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim.

Anjuran ini berdasarkan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 125:

“Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat.”

Rasulullah SAW juga mencontohkan hal ini. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, ketika Nabi Muhammad SAW thawaf, beliau membaca ayat tersebut lalu shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim.

Namun, perlu dipahami bahwa shalat ini tidak harus tepat di belakang batu Maqam Ibrahim. Jika area tersebut sangat padat, jamaah bisa shalat di mana saja di dalam Masjidil Haram. Yang penting adalah tetap menghadap Kabah dan menjaga ketenangan.

Tata Cara Shalat di Belakang Maqam Ibrahim

Berikut tata cara shalat dua rakaat setelah thawaf yang bisa Anda ikuti:

  1. Setelah menyelesaikan thawaf tujuh putaran, menuju area Maqam Ibrahim jika memungkinkan.
  2. Jika area padat, cari tempat lain yang masih di dalam Masjidil Haram dan tetap menghadap Kabah.
  3. Shalat dua rakaat dengan niat shalat sunnah thawaf.
  4. Pada rakaat pertama, dianjurkan membaca Surah Al-Kafirun setelah Al-Fatihah.
  5. Pada rakaat kedua, dianjurkan membaca Surah Al-Ikhlas setelah Al-Fatihah.
  6. Setelah salam, perbanyak doa dan dzikir.

Penting diingat: jangan memaksakan diri untuk shalat tepat di belakang Maqam Ibrahim jika kondisi sangat padat. Berdesakan bisa mengganggu jamaah lain dan berpotensi menimbulkan bahaya. Utamakan keselamatan dan kenyamanan bersama.

Keutamaan dan Hikmah di Balik Maqam Ibrahim

Maqam Ibrahim bukan sekadar batu biasa. Ia menyimpan banyak pelajaran berharga bagi setiap muslim yang mengunjunginya. Berikut beberapa keutamaan dan hikmah yang bisa kita renungkan:

  • Simbol ketaatan kepada Allah. Nabi Ibrahim rela meninggalkan kampung halaman dan mengerjakan perintah Allah tanpa ragu. Maqam Ibrahim mengingatkan kita untuk selalu taat pada perintah-Nya.
  • Bukti kekuasaan Allah. Jejak kaki yang membekas di batu adalah mukjizat yang menunjukkan kebesaran Allah SWT.
  • Tempat doa yang mustajab. Berdoa di dekat Maqam Ibrahim, terutama setelah shalat thawaf, adalah momen yang sangat dianjurkan.
  • Pengingat perjuangan keluarga Nabi Ibrahim. Kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail adalah teladan dalam membangun keluarga yang bertakwa.
  • Titik fokus saat thawaf. Maqam Ibrahim sering dijadikan patokan untuk memulai dan mengakhiri putaran thawaf.

Banyak jamaah yang mengaku merasakan ketenangan luar biasa saat berdiri di dekat Maqam Ibrahim. Air mata sering menetes tanpa diminta, mengingat betapa besar pengorbanan Nabi Ibrahim untuk agama ini.

Adab Saat Berada di Dekat Maqam Ibrahim

Karena Maqam Ibrahim adalah tempat yang sangat mulia, ada beberapa adab yang sebaiknya diperhatikan:

  1. Jangan menyentuh atau mencium Maqam Ibrahim. Yang dicium saat thawaf hanyalah Hajar Aswad.
  2. Jangan berfoto dengan pose berlebihan di dekat Maqam Ibrahim.
  3. Jaga suara agar tidak mengganggu jamaah yang sedang shalat atau berdoa.
  4. Jangan memaksa masuk ke area padat hanya untuk mendekat.
  5. Perbanyak doa dan dzikir, bukan sekadar melihat-lihat.

Adab-adab ini penting agar ibadah kita tetap khusyuk dan tidak mengganggu jamaah lain yang juga ingin beribadah.

Tips Menunaikan Shalat di Belakang Maqam Ibrahim

Karena area Maqam Ibrahim selalu ramai, terutama saat musim haji dan Ramadan, ada beberapa tips yang bisa membantu Anda:

  • Pilih waktu yang lebih sepi. Setelah subuh atau menjelang tengah malam biasanya lebih longgar.
  • Gunakan lantai atas. Lantai dua dan tiga Masjidil Haram juga sah untuk shalat thawaf, dan biasanya lebih lengang.
  • Jangan berhenti di jalur thawaf. Jika ingin shalat, segera menepi agar tidak menghambat jamaah lain.
  • Bawa air minum. Cuaca di Makkah sangat panas, jaga hidrasi tubuh.
  • Perbanyak sabar. Berdesakan adalah bagian dari ujian ibadah. Tetap tenang dan ikhlas.

Dengan persiapan yang baik, shalat di belakang Maqam Ibrahim bisa menjadi momen paling berkesan dalam perjalanan spiritual Anda.

Maqam Ibrahim dalam Pandangan Sejarah Islam

Para ulama dan sejarawan Islam banyak menulis tentang Maqam Ibrahim. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa batu ini adalah peninggalan nyata dari masa Nabi Ibrahim. Sementara itu, sejarawan seperti Al-Azraqi mencatat detail posisi dan perawatan Maqam Ibrahim dari generasi ke generasi.

Beberapa orientalis pernah meragukan keaslian jejak kaki tersebut. Namun, umat Islam meyakini kebenarannya berdasarkan Al-Qur’an dan hadis. Yang terpenting bukan sekadar memperdebatkan fisiknya, melainkan mengambil pelajaran dari kisah di baliknya.

Hingga hari ini, Maqam Ibrahim tetap menjadi salah satu ikon Masjidil Haram yang paling dikenang. Ia berdiri kokoh sebagai pengingat bahwa Islam dibangun di atas pengorbanan dan ketaatan kepada Allah.

Kesimpulan

Maqam Ibrahim adalah batu bersejarah yang menyimpan jejak perjuangan Nabi Ibrahim AS saat membangun Kabah. Fungsinya sebagai tempat shalat setelah thawaf menjadikannya bagian penting dari rangkaian ibadah haji dan umroh. Keberadaannya mengingatkan kita pada ketaatan, pengorbanan, dan kebesaran Allah SWT.

Bagi Anda yang sedang bersiap menunaikan ibadah umroh atau haji, memahami Maqam Ibrahim akan membuat perjalanan spiritual Anda semakin bermakna. Jangan hanya sekadar melihat, tetapi resapi kisah di baliknya.

Ingin perjalanan umroh yang nyaman, aman, dan penuh makna? PT Rindu Makkah Madinah siap menemani langkah Anda menuju tanah suci. Dengan pelayanan profesional dan bimbingan ibadah yang berpengalaman, kami membantu Anda fokus beribadah tanpa khawatir urusan teknis. Rindunya membawa berkah.

Hubungi kami sekarang untuk informasi paket umroh dan haji terbaru. Wujudkan impian ke Baitullah bersama kami, dan rasakan pengalaman spiritual yang tak terlupakan di depan Maqam Ibrahim.